Kami Bersama Dalil Dimanapun Ia Berada Tidak Fanatik Kepada Figur Tertentu Hanya Berpihak Kepada Al Haq

SAUDARA DAN TEMAN SEJATI

Abu Khuzaimah Al Andunisi
قال يحيى بن معاذ : أخوك من عرفك العيوب، وصديقك من حذرك من الذنوب

KEMULIAAN ITU HANYA DENGAN MENGIKUTI KEBENARAN DAN MENGAMALKANNYA

Abu Khuzaimah Al Andunisi
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah _rahimahullah_ berkata:

الرفعة لا تكون بمجرد العلم، بل باتباع الحق والعمل به.

Kemuliaan tidak akan diraih hanya dengan ilmu saja, tetapi dengan mengikuti kebenaran dan mengamalkannya."

📚 I'lamul Muwaqqi'in, jilid 1 hlm 167.

Abu ishaq as Sabii'i menangis

Abu Khuzaimah Al Andunisi
Suatu hari Abu ishaq as Sabii'i menangis.
Lalu dikatakan kepadanya: "apa yang membuat anda menangis?"
Ia berkata: "telah pergi kekuatanku, dan telah pergi sholat dariku. Aku tidak sanggup lagi untuk sholat sambil berdiri kecuali hanya (sebatas bisa) membaca al Baqarah dan Ali Imran saja." 

ﺑﻜﯽ ﺃﺑﻮ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺍﻟﺴﺒﻴﻌﻲ ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ : ﻣﺎ ﻳﺒﻜﻴﻚ؟ ﻗﺎﻝ : " ﺫﻫﺒﺖ ﻗﻮﺗﻲ ﻭﺫﻫﺒﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﻨﻲ ﻣﺎﺃﺳﺘﻄﻴﻊ ﺃﻥ ﺃﺻﻠﻲ ﻗﺎﺋﻤﺎ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﺒﻘﺮﺓ ﻭﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ ". [ ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ ﻻﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ (76/8) ]

🌏 Sumber: Ats-Tsiqot li Ibni Hibban (8/76)

PENCINTA DUNIA

Abu Khuzaimah Al Andunisi
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى.

 Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal : kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus; kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan; dan penyesalan yang tidak pernah berhenti.
(Ighâtsatul Lahafân, I/87)

PENGIKUT HAWA NAFSU

Abu Khuzaimah Al Andunisi
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata:

أَلَا تَرَى أَنَّ الَّذِيْ يُعَظِّمُ نَفْسَهُ بِالْبَاطِلِ يُرِيْدُ أَنْ يَنْصُرَ كُلَّ مَا قَالَهُ وَلَوْ كَانَ خَطَأً.

“Tidak engkau perhatikan bahwa orang yang memuliakan dirinya sendiri walaupun dengan kebathilan, dia ingin membela semua yang dia katakan walaupun salah.”

Majmuu’ul Fataawaa (X/292).

CARA MEMURNIKAN NIAT DALAM MENCARI ILMU

Abu Khuzaimah Al Andunisi

CARA MEMURNIKAN NIAT DALAM MENCARI ILMU

CARA MEMURNIKAN NIAT DALAM MENCARI
قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله :
الأمر الأول: أن تنوي بذلك امتثال أمر الله لأن الله تعالى أمر بذلك قال (فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك)
وحث سبحانه وتعالى على العلم، والحث على الشيء يسلتزم محبته والرضا به والأمر به.
ثانيًا: أن تنوي بذلك حفظ شريعة الله لأن حفظ شريعة الله يكون بالتعلم، والحفظ بالصدور ويكون كذلك بالكتابة كتابة الكتب.
والثالث: تنوي بذلك حماية الشريعة والدفاع عنها لأنه لولا العلماء ما حميت الشريعة ولا دافع عنها أحد، ولهذا نجد مثلا شيخ الإسلام ابن تيمية وغيرهم من أهل العلم الذين تصدَّوا لأهل البدع وبيَّنوا بطلان بدعهم نرى أنهم حصلوا على خير كثير.
والرابع: أن تنوي بذلك اتباع شريعة محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم لأنك لا يمكن أن تتبع شريعته حتى تعلم هذه الشريعة.
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata :
📗 Pertama : kamu meniatkannya sebagai bentuk penunaian perintah Allah, karena Allah -Subhanahu wa ta’ala- memerintahkan hal itu.
“Ketauhilah bahwasannya tiada Ilah kecuali Allah, dan mohonlah ampun astas dosa-dosamu.”
Allah telah menganjurkan untuk mencari ilmu, dan jika Allah menganjurkan terhadap sesuatu, maka sesuatu itu pasti dicintai dan diridhai serta diperintahkan-Nya.
📗 Kedua : kamu niatkan untuk menjaga syariat Allah, karena menjaga syariat Allah akan terlaksana dengan mempelajarinya, menghafalnya di dalam hati, demikian pula dengan menulis buku-buku mengenainya.
📗 Ketiga : kamu niatkan untuk membela syariat. Karena, jika tidak ada kelompok ulama, niscaya syariat tidak akan terjaga dan tidak memiliki pembela. Karena itulah, kita bisa melihat Ibnu Taimiyyah dan ulama-ulama lain mereka memperoleh kedudukan yang mulia, karena mereka gigih berperang melwan ahli bid’ah dan menjelaskan kebatilan-kebatilan mereka.
📗 Keempat : kamu niatkan untuk mengikuti syariat Nabi Muhammad -Shalallahu’alaihi wa sallam- karena kamu tidak mungkin mengikuti syariatnya tanpa mengetahui syariat ini.
📚 Al-Allamah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, Syarah Hilyah Thalibil Ilmi

KEADAAN SEORANG MUKMIN YANG SEBENARNYA

Abu Khuzaimah Al Andunisi

KEADAAN SEORANG MUKMIN YANG SEBENARNYA

Al-Hasan al-Bashry rahimahullahu Ta’ala berkata :
إنّ المـؤمـن يُصبـح حـزينـاً ويمسي حـزينـاً، ولايسعـه غير ذلك، لأنـه بين مخافتين : بين ذنبٍ قد مضى لايدري ما الله يصنع فيه ،وبين أجلٍ قد بقي لايدري مايصيبه فيـه من المهالك
Sesungguhnya seorang mukmin di pagi maupun petang hari selalu dalam kondisi sedih dan itu tidak mungkin terelakkan, karena dia berada di antara dua kekhawatiran :
📎 Berbagai dosa masa lalu yang ia tidak tahu apa yang akan Allah perbuat dengan dosa-dosa itu.
📎 Ajalnya yang menanti sementara ia tidak tahu kebinasaan apa yang akan menimpanya saat ajal tiba.
Al-Hilyah 2/132